Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, 22 August 2013

SENYUM TERAKHIR


Dengan nafas yang terengah-engah setelah mengendarai sepeda. Aku terhenti saat ku melihat dia, aku tak tau siapa dia. Wajahnya cukup cantik dan manis, aku singgah membeli segelas air untuk melepaskan dahaga yang melanda tenggorokanku.

Setelah beristirahat aku langsung menggayuh pedal sepeda untuk pulang ke rumah. Sesampai dirumah, kedua orang tuaku sedang pergi ke sebuah tempat yang aku tidak tau. Aku segera pergi mandi karena badanku sudah bermandi keringat. Setelah mandi aku memakai pakaian dan menuju taman yang tak jauh dari kompleks rumahku. Aku kaget si dia juga sedang berada ditaman. Tanpa pikir panjang aku langsung menghapirinya.
“Hai…..”, kataku

Dengan senyum aku menyapanya.
Tapi dia tidak merespon dan tetap saja membaca sebuah novel. Sekali lagi aku mengulangi sapaanku.

“Hai.. boleh kenalan gak?”.
“Iya ada apa?”, katanya sambil menatap novel yang dibacanya.
“Aku boleh gak kenalan? Namaku Zhaky”, sambil mengulurkan jemariku.

Dia langsung berdiri lalu meletakkan bukunya di atas kursi dan memberi tah u namanya.
“Namaku Tamara”, katanya dengan senyum.
“Kamu tinggal dimana?”, kataku.
“Aku tinggal di sebelah kiri toko buku dekat gerbang kompleks. Aku baru pindah kemarin.”
“Oooo…. Kamu anak baru yah?”.
“Memang kenapa?”.
“Tidak kenapa-kenapa kok”.
“Ayo aku temani jalan-jalan di taman ini. Lagi pula gak enak juga kalau suasananya begini-begini saja”, pintaku.
“Ok.. baiklah”, katanya dengan lembut.

Langkah demi langkah mengawali perkenalanku dengan si dia yaitu Tamara. Kami berjalan mengeliling taman, dari pada hanya terdiam lebih baik aku memulai pembicaran. Aku menanyakan banyak hal kepadanya. Dan kami selalu menyelingi pembicaraan kami dengan candaan yang cukup untuk mengocok perut hingga sakit.
Sekarang sang mentari akan kembali ke peraduannya. Kami berjalan pulang bersama karena arah rumah kami searah. Tamara berada di depan kompleks sedangkan rumahku ada di lorong kedua sebeleh kanan di kompleks tempat tinggalku. Sesampai di depan rumah Tamara kami berhenti dan menyempatkan diri untuk bercanda sebentar.

Suara teriakan Ibunya yang memanggil membuat kami berdua kaget.
“Tamara… Tamara… ayo cepat masuk, udah hampir malam nih!, teriak ibunya.
“Ya bu.. tunggu!, Zhaky aku duluan yah?”, katanya dengan senyum.
“Iya...”, kataku sembari membalas tersenyumnya.
“Kamu juga cepetan pulang, nanti di cariin sama Ibu kamu”.
“Ok… aku pulang yah.. dadah..!, sambil berjalan dan melambaikan tangan.

Di perjalanan, aku hanya bisa berkata “baru kali ini aku bisa cepat berkenalan dengan seorang gadis, apalagi gadis seperti Tamara”. Kini aku berjalan di antara jalan yang sepi dengan sedikit penerangan dari lampu jalan yang mulai redup dan di kerumuni serangga.

Sesampai di rumah aku di marahi oleh Ibuku.
“Kamu ke mana aja”?, bentak Ibu.
“Maaf Bu, aku tadi dari keliling taman”, kataku sambil menunduk.
“Lain kali jangan pulang telat lagi yah?”.
“ Iya Bu”, sembariku meninggalkan ibu di teras rumah.

Keesokan paginya aku bertemu dengan Tamara, ternyata aku sama sekolah dengan dia, kemarin aku lupa nanya sih. Aku langsung berlari menghapirinya.
“Tamara… Tamara…. tunggu aku!”, kataku sambil berlari.

Tamara berhenti dan memegang pundakku.
“Masih pagi-pagi kok dah keringatan kayak gini?, ini usap keringatmu!”, katanya sembari menyodorkan sapu tangannya.
“Iya nih, kamunya tuh. Kamu jalannya cepat amat” .
“Iya maaf”, kataya sambil tersenyum.
“Ayo buruan entar pintu gerbang di tutup”.

Sesampai di sekolah aku langsung ke kelas dan ternyata Tamara juga sekelas dengan aku. Dia duduk di sampingku, karena Dino teman aku baru pindah sekolah dua hari yang lalu. Tamara naik dan memperkenalkan dirinya ke teman-teman kelasku.
“Hai perkenalkan namaku Tamara Adelia, panggil aja aku Tamara. Aku baru pindah dari Makassar kemarin, semoga kita semua bisa menjadi teman yang akrab”.
“Ok….”, Teriak semua temanku.

Kini kami semakin dekat. Kami selalu bersama, kami duduk di depan kelas sembari bercerita tentang tugas sekolah.

“Kamu suka pelajaran apa?”, tanyaku.
“Aku paling suka pelajaran matematika”.
“Kenapa kamu suka pelajaran itu?, padahal pelajaran itu agak rumit dan memusingkan”.
“Karena aku suka aja dengan pelajaran itu, kalau kamu sukanya pelajaran apa?”.
“Aku paling suka dengan pelajaran bahasa Indonesia, yah pelajaran sastra”.
“Kenapa kamu suka pelajaran itu?, tanyaku.
“Seperti kamu tadi, aku suka aja dengan pelajaran itu. Aku sudah buat beberapa cerpen, mau baca?”, kataku sambil menyodorkan beberapa cerpen karyaku.
“Ini buatan kamu?, aku gak percaya”.
“Iyalah, ini buatan aku. Kamu baca yah dan berikan saran, ok?”.
“Ok…”, katanya sambil tersenyum.

“Tttttttteeettt….”, Bunyi bel menandakan kami akan melanjutkan ke pelajaran berikutnya. Tapi, guru yang mengajar tidak datang. Jadi aku dan Tamara bersama teman-teman yang lain hanya bercerita tentang hal-hal yang dapat mengocok perut.

Tak lama kemudian, kami pun pulang. Aku bersama Tamara dan temanku yang lain berjalan menuju pintu gerbang, menertawai hal yang tak patut ditertawai. Di perjalanan pulang Tamara berteriak, “Auuuuhh sakit, Zhaky bantu aku berdiri!” pintanya sambil meneteskan air matanya. kaki Tamara tersandung batu, dan kelihatannya kaki Tamara Terkilir.
“Sudah jangan nangis donk, pasti kamu akan sembuh kok”, kataku menyemangati.
“Iya Zhaky, tapi kaki aku sakit banget. Bantu aku berdiri donk!”, pintanya
“Auuuuhh…. Sakit!!”, katanya sambil merintih kesakitan.
“Sini biar aku gendong deh, gak apakan?” .
“Betul mau gendong aku, aku berat loh!”, katanya sambil tersenyum.
“sakit-sakit gini sempat aja ngelawak, sini naik cepat”.
“hehehe…. Aku beratkan?”, tanyanya, sambil tertawa.
“Gak kok..”, kataku sambil tersenyum.

Sesampai di depan rumah Tamara, Ibunya yang sedang membaca koran kaget saat melihat kedatanganku yang menggendong Tamara.
“Tamara, kamu gak apa-apakan nak?”.
“Gak apa-apa kok Bu”, kata Tamara.
“Kakinya terkilir tadi waktu jalan pulang tante”, kataku.
“Terima kasih yah nak ….”
“ Zhaky, tante!”, ucapku dengan maksud memperkenalkan diri.
“Iya terima kasih yah nak Zhaky”, katanya sambil tersenyum.
“Tamara, tante, Zhaky pulang dulu yah?”, kataku.
“Iyaa nak Zhaky, kapan-kapan main ke rumah yah?”, kata ibu Tamara.
“Baik tante”, kataku sambil tersenyum.
Sehabis menggendong Tamara punggungku rasanya ingin copot, benar juga kata Tamara badannya berat. Tapi, tidak apalah dari pada sahabat aku Tamara gak pulang ke rumah. Sesampai dirumah aku langsung melepas pakaian dan makan siang. Sesudah itu aku langsung tidur karena aku lelah banget udah gendong Tamara.

Keesokan paginya aku menunggu Tamara di depan rumahnya. Saat melihat dia keluar rumah, dia sudah bisa berjalan dengan baik. Aku kaget dan bengong melihatnya.
“Woii kamu kenapa bengong kayak gitu?”, tanyanya sambil mencubit pipiku.
“Akh gak apa kok!, eh kok cepat amat sembuhnya?”.
“Iyaa nih, semalam aku dibawa ke tukang urut, rasanya sakit amat waktu di urut”.
“Baguslah, daripada berjalan dengan pincang”, kataku sambil tersenyum.
Sampai di sekolah teman-teman ku berkumpul membicarakan sesuatu, aku dan Tamara bergegas ke sana dan mendengar apa yang di ceritakan teman-temanku itu.
“Teman-teman, besokkan kita libur bagaimana kalau kita liburan?”, kata Naila.
“Kita mau ke mana ?”, tanyaku memotong pembicaraan.
“Kita akan pergi liburan, baiknya kita ke mana?”, kata Denny.
“Bagaimana kalau kita pergi ke tempat rekreasi terkenal di kota ini!”, kata Tamara.
“Baiklah kita akan ke pantai Bira!”, kataku.

Tak sabar menunggu saat itu, aku menceritakan sedikit tentang pantai Bira kepada Tamara. Kami tidak memerhatikan penjelasan guru, akibat cerita kami yang semakin mengasyikkan. Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi. Rasanya aku tidak ingin berpisah dengan Tamara walau sekejap saja. Tapi, mungkin itu cuman perasaanku saja. Kami berkeliling sekolah mencari hal-hal yang baru dan melupakan apa yang aku banyangkan tadi.

Tidak lama kemudian, bel kembali berbunyi kami berlari ke kelas. Kami berlari sambil tertawa dengan senangnya. Rasanya hal ini adalah hal yang terindah bagiku. Sesampai di kelas kami duduk dan menunggu guru. Tak lama kemudian, guru yang mengajar pun datang.

Aku merasa agak tidak enak badan. Tamara iseng mencubit pipiku dan Tamara kaget.
“Zhaky kamu gak apa-apa, kan?” tanyanya dengan khawatir.
“Aku gak apa-apa kok”, kataku dengan nada yang pelan.
“Kamu sakit dan aku harus antar kamu pulang!”, katanya sambil berjalan menuju guruku.
“Pak, Zhaky sakit”, katanya.
“Baiklah bawa dia pulang, kamu mau mengantarnya?” tanya pak guru.
“Iya pak aku bisa kok”, katanya.

Berhubung sudah hampir pulang Tamara memasukkan barang-barangku ke dalam tas
lalu dia juga membereskan barang-barangnya.
“Ayo aku antar kamu pulang”, katanya.

Tamara meminta izin mengantar aku pulang. Sambil memegang jemari-jemariku dan sesekali memegang keningku. Tamara selalu bertanya tentang keadaanku. Tapi, aku hanya bisa menjawabnya dengan kalimat, “Aku baik-baik saja kok, gak usah khawatir”.
Sesampai di rumah aku langsung di bawa Tamara ke kamarku sembari ibu mengomel-ngomeliku.
“Ini sebabnya kalau makan gak teratur”, katanya.
“Sudah tante, Zhaky ‘kan lagi sakit”, pinta Tamara ke Ibuku.
“Biarlah nak, biar dia tahu rasa”, kata Ibuku.
“Kalau begitu aku pulang dulu tante”.
“Nak nama kamu siapa?”.
“Nama aku Tamara, tante”.
“Terima kasih yah nak Tamara, udah bawa pulang anak tante ini”.
“Iya, sama-sama tante”, katanya.
Aku melihat senyuman indah dari Tamara saat akan keluar dari kamarku.

Keesokan paginya, rasanya badanku udah sehat. Aku bergegas menyiapkan barang yang akan ku bawa. Aku mandi dan sesudah itu berpakaian rapi dan langsung menuju rumah Tamara. Tapi, Tamara sudah berangkat duluan. Aku langsung ke sekolah. Sampai di sekolah aku melihat Tamara dan langsung menghampirinya.
“Zhaky, kamu udah sembuh?”, katanya.
“Iya.. aku udah sembuh kok”.
“Betul aku udah sembuh”, kataku sambil meraih tangannya dan meletakkannya di keningku.

Tak berapa lama kemudian, bus yang akan mengantar kami ke pantai Bira pun datang. Aku duduk di belakang bersama anak lelaki lainnya. Tamara berada di depan bersama teman wanitanya. Di perjalanan rasa gelisahku semakin tak menentu. Aku memiliki pirasat buruk dan naas tak berselang beberapa lama mobil yang aku tumpangi kecelakaan.

Aku merasa kepalaku sakit, saat ku pegang kepalaku mengeluarkan darah yang banyak. Tapi, yang ada di pikiranku sekarang adalah Tamara. Aku langsung berteriak dengan nada yang lemah. “Tamara.. kamu gak apa-apa, kan?”. Aku tak mendengar suaranya. Aku melihat teman-temanku terluka dan mengeluarkan banyak darah. Saat aku ke tempat duduk Tamara, aku melihat kepala Tamara mengeluarkan banyak darah. Rasa sakit yang aku rasa membuat aku pingsan.
“Zhaky, Zhaky, bangun nak, ibu di sini”, kata ibuku sambil menangis.

Mendengar suara itu, aku terbangun. Aku sekarang berada di rumah sakit, aku kaget dan berteriak.
“Dimana Tamara Bu? Tamara baik-baik sajakan Bu?”.

Ibu hanya terdiam sambil menatap ayah.
“Ibu apa yang terjadi?”, aku mulai meneteskan air mata.
“Maaf nak, kini Tamara sudah berada di tempat lain”, dengan nada yang pelan ibu memberitahuku.
“Jadi maksud ibu?”.
“Iya Nak, Tamara telah meninggal akibat kecelakaan itu”, kata ibu sembari memelukku.

Aku terduduk di ranjang dan dipeluk ibu sambil menangis dengan keras dan berkata “ kenapa dia terlalu cepat meninggalkan aku Bu?”. Aku terdiam dan mengingat saat aku sakit, dia memberiku senyuman yang kuanggap indah itu dan menjadi senyuman terakhir darinya.

Friday, 7 June 2013

PUISI TERAKHIR

Puisi Terakhir Dari kecil dia sudah terbiasa ditinggal oleh ibunya ke luar kota, semenjak adanya pertengkaran di rumahnya itu, dia memang berasal dari keluarga yang tidak mampu dia adalah anak ke 2 dari 4 bersaudara, namun kedua orang tuanya sangat ingin melihat anaknya sukses yah walaupun untuk biaya sekolahnya sang kakak harus berhenti sekolah dan hanya sampai kelas 2 SMA, sang kakak bekerja di kota untuk membiayai keluarganya, walau sangat di sayangkan sang kakak keluar namun apalah daya ibu bapak nya yang tak mampu membiayai sekolah sang kakak, dia hanya bisa menangis melihat sang kakak pergi ke kota meninggalkan mimpinya untuk menjadi orang yang berpendidikan tinggi. Saat dia duduk di bangku SMP kelas 2 dia berusaha belajar keras untuk bisa memberikan kado terindah untuk keluarganya yaitu berupa prestasi , dia ingin sekali menjadi juara dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya. Berbagai masalah keluarga sering muncul yang membuatnya semakin sedih melihat kedua orang tuanya selalu bertengkar mempermasalahkan keuangan bagaimana buat makan besok, uang bangunan sekolah ku, semua itu membuat mereka pusing, ayah yola hanyalah seorang petani yang selalu di remehkan oleh saudara-saudaranya yang cukup mampu. Dengan kerja kerasnya itu ahirnya yola bisa meraih mimpinya itu, dia bisa menjadi juara dan mendapat beasiswa unuk melanjutkan sekolah, yola memang anak yang cukup panadai dia selalu blajar untuk bisa mendapatkan prestasi yang bagus di sekolah. Hal yang paling terindah bagi yola hanyalah bisa menjadi juara menjadi nomor 1 sehingga ia tak pernah mempunyai pacar, bukan dia tak mau punya pacar namun keluarganya melarang untuk dekat dengan lelaki sehinga dia merasa takut untuk berpacaran, dia gadis yang sangat polos. kehidupan yola mulai berkecukupan setelah 3 tahun ka dini bekerja di kota dan membiayai kebutuhan yola semenjak SMP sampai SMA dan keluarganya di kampung. Yola sangat menyayangi kakaknya itu dia bertekad untuk bisa membanggakan mereka dengan prestasinya. Dan perasaan bahagia yang tak terkira saat yola juga bisa menjadi juara di SMA. Keluarganya sangat bangga dengan prestasinya itu Semua piagam penghargaan di pajang di kamarnya. KULIAH, menjadi keinginan terbesarnya, dengan mengambil jurusan sastra dia harap bisa menjadi seorang penulis yang bisa menuangkan semua derita hatinya. Namun jika untuk kuliah keluarganya tak sanggup untuk membiayai. “tak usah kuliah nak, bapak mu ini tak punya uang untuk membiayaimu kuliah” “tapi pak, yola ingin menjadi orang. kalau yola kuliah itu bisa mengangkat derajat keluarga kita, takan ada lagi orang yang berani menghina kelurga kita karena tak punya apa-apa” “iyah, tapi bagaimana dengan biayanya, bapak dan ibu mu ini tak punya uang, untuk makan saja mungkin cukup, orang kakak mu juga gak kuliah sekolahnya aja liren di tengah jalan memangnya kamu gak kasihan sama kakakmu” “ bapak, justru ka dini yang mendorong yola untuk kuliah kakak yang nanti akan membiayai aku kuliah” “ memangnya kamu ini mau jadi apa to ndo?” “ya pokok nya yola ingin membahagiakan bapak, ibu dan semuanya” “ya sudah, terserah kamu ndo tapi bapak gak bisa kasih apa-apa, bapak dan ibu hanya bisa mendo’akan kamu disana, dan bapak pesen jangan pacaran kalau pacaran mendingan keluar saja kuliahnya soalnya nanti bisa mengganggu kuliah kamu” “iyah pak. Yola selalu ingat pesan itu” Perjalan hidup yang begitu panajang, dia hanya di temani karya-karyanya. KESEPIAN,, tentulah dia rasakan, semua temannya adalah perempuan tak ada laki-laki yang mau menjadi pacarnya, bukan karena dia tak cantik tetapi karena kepribadianya yang tertutup sekali dengan pria. Banyak sekali yang menyukainya namun mereka minder untuk mendekatinya, dia seorang perempuan yang yang memiliki wibawa. Jauh di lubuk hatinya ternyata dia memndam perasaan kepada seorang pria, namun tak mungkin baginya untuk bisa memilikinya bibirnya tak mungkin berucap. Puisi yang menyayat hati yang selalu dia buat kala hatinya gundah. Sahabat-sahabatnya pun tak pernah tahu siapa pria yang dimaksud yola itu dia tak pernah cerita, itu adalah rahasia cintanya. dari sebelum lulus kuliah sudah banyak karyanya yang di terbitkan. Novel dan puisi-puisinya banyak disukai para remaja. SENDIRI,, itu sudah biasa baginya tak mengapa tak pernah merasakn indahnya jatuh cinta asal dia bisa meraih prestasi yang dia inginkan itulah Yang selalu tertanam di benaknya. Kini kehidupan keluarganya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya hasil dari karya-karya nya, kini tak ada lagi yang menghina kelurganya, bahkan saudara-saudara dari keluarga bapak nya itu kini malah berbalik mereka kini tak punya apa-apa sama seperti keadaan keluarganya dulu bahkan jauh lebih buruk. Pagi itu sekitar pukul 07.0 ibunya mengetuk pintu kamar anaknya itu, namun tak ada jawaban, ah mungkin masih tidur ucap sang ibu. Pukul 09.0 sang ibu pun kembali mengetuk pintu kamar anaknya, namun sama tak ada jawaban sang ibu pun membuka kamar yola dan melihat anaknya itu masih ada di depan komputer. Sang ibu pun mendekati anaknya sambil mengusap-ngusap rambut anaknya. “yola,, ayo bangun sudah siang, ibu sudah bikin sarapan ayo kita makan bareng” Namun sang ibu merasa aneh karena anaknya itu tak juga bangun. Sang ibu langsung panik dan memanggil sang bapak. “pak,, bapak kesini yola gak bangun-bangun” “ya biarin saja lah bu mungkin kecapean” “cepetan pak, yola pingsan,” “apa? iya,,iya sebentar” bapaknya langsung menghampiri kamar anaknya itu dan langsung memanggil dokter. Sekeluarga sangat panik karena tak biasanya yola pingsan, dokter pun mengatakan kondisi yola yang sudah tak bernayawa lagi di akibatkan liver nya yang sudah parah. Bapak, ibu, dan adiknya mereka sangat terkejut mendengar keterangan dari sang dokter. Ibunya langsung menghampiri anaknya yang sudah tiada yang kini terbaring di tempat tidur sambil menagis. Sang bapak pun tak kuasa menahan kesedihan itu dia menagis di ahadapan putrinya yang sudah tiada, begitu pula dengan sang adik yang menangis sambil menelepon kak dini yang sedang berada di kota bahwa kakak keduanya telah meniggal dunia. Kak dini langsung pulang dengan penuh kesedihan memdengar adiknya telah meninggal. Semua keluarganya sungguh tak menyangka akan penyakit yola itu karena dia tak pernah mengeluh sakit apapun. Setelah selesai pemakaman, kak dini memandangi kamar adiknya dengan deraian air mata, dia menghampiri komputer yang masih menyala dikomputer itu tertulis sebuah puisi yang merupakan pesan terakhir dari adiknya saat sebelum yola meninngal. Ternyata adiknya itu sudah tahu bahwa hidupnya tak lama lagi namun dia tak pernah mengatakan akan penyakitnya itu. Semua keluarga dan sahabat-sahabatnya menangis saat membaca puisi itu.
     Saat aku tersenyum aku bahagia
     Saat aku sedih akupun masih tetap tersenyum
     Tak pernah kuinginkan keadaan ini 
     Namun aku harus pergi jauh
     Harapanku sudahlah terwujud
     Menjadi seperti ini adalah yang aku inginkan
     Sedih, bahagia ku curahkan disisni
     Ku mohon Jangan tangisi saat aku pergi
     Maaf untuk kalian yang ku tinggalkan
     Meski aku telah pergi kenanglah aku
    Tetaplah menjadi orang yang menyayangiku
    Walaupun kini aku telah pergi...